• Senin, 23 Mei 2022

Penelitian Mahasiswa FKUI Jadi yang Terbaik pada CIOMS Annual Award For Medical Students

- Kamis, 6 Januari 2022 | 07:57 WIB
Tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) keluar sebagai pemenang di CIOMS Annual Award for Medical Students 2021. (Jabodetabek.id)
Tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) keluar sebagai pemenang di CIOMS Annual Award for Medical Students 2021. (Jabodetabek.id)

Jabodetabek.id - Tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) keluar sebagai pemenang di CIOMS Annual Award for Medical Students 2021, untuk artikel ilmiah terbaik di bidang farmakovigilans dan etika penelitian. Mereka adalah Gilbert Lazarus (mahasiswa FKUI angkatan 2017), Kevin Tjoa (FKUI 2017), dan Anthony William Brian Iskandar (FKUI 2017). Ketiga mahasiswa tersebut dibimbing oleh dosen dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI yaitu, dr. Vivian Soetikno, PhD, SpFK dan Dr. Melva Louisa, S.Si, M.Biomed.

Council for International Organizations of Medical Sciences (CIOMS) adalah NGO (Non-Goverment Organization) internasional yang dibentuk oleh badan PBB WHO dan UNESCO pada tahun 1949. CIOMS bergerak di bidang etika penelitian kedokteran, pengembangan alat kedokteran, dan farmakovigilans.

Penelitian yang para mahasiswa tersebut lakukan berjudul "The effect of human immunodeficiency virus infection on adverse events during treatment of drug-resistant tuberculosis: A systematic review and meta-analysis" yakni tentang pengaruh infeksi human immunodeficiency virus (HIV) terhadap efek samping pada pengobatan pasien tuberkulosis (TB) yang resistan obat. Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal PLOS One (Q1) pada 4 Maret 2021.

“Penelitian kami bertujuan untuk mengetahui apakah infeksi HIV memengaruhi terjadinya efek samping pada pengobatan pasien dengan TB resistan obat (TBRO). Hal ini menarik perhatian kami karena HIV seringkali juga ditemukan pada pasien dengan TBRO, dan juga pengobatan pasien TBRO seringkali tidak optimal karena tingginya tingkat kejadian efek samping saat pengobatan. Terlebih lagi, tingginya kasus HIV dan TB di Indonesia, yaitu tertinggi ke-2 di Asia untuk TB dan tertinggi ke-1 di Asia Tenggara untuk HIV, semakin meyakinkan kami bahwa topik ini penting untuk kami telusuri,” ujar Gilbert Lazarus.

Lebih lanjut Gilbert mengatakan, “Dari penelitian ini, kami menemukan bahwa infeksi HIV meningkatkan risiko terjadinya efek samping pada pengobatan TBRO sebanyak 12%. Namun, kami menduga efek tersebut lebih diakibatkan oleh interaksi antara obat anti-TB dengan obat anti-HIV dan bukan karena infeksi HIV itu sendiri. Selain itu, kami menemukan bahwa efek HIV lebih tampak pada efek samping kehilangan pendengaran, gangguan ginjal, dan depresi.”

Gilbert berharap hasil penelitian bersama teman-temannya itu dapat membantu klinisi dan pemangku kepentingan untuk menentukan pemeriksaan-pemeriksaan apa saja yang perlu diprioritaskan pada pasien HIV/TBRO. Selain itu, untuk menekankan kembali pentingnya farmakovigilans pada pasien HIV/TBRO.

Vivian Soetikno menyatakan rasa bangga terhadap mahasiswa yang dibimbingnya. “Sungguh suatu prestasi yang sangat mengharumkan nama FKUI di kancah Internasional. Peran serta mereka dalam mengangkat masalah pengaruh infeksi HIV terhadap efek samping pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat, menunjukkan bahwa anak muda Indonesia yang mereka wakili, punya perhatian terhadap masalah kesehatan global yang sampai saat ini masih dihadapi oleh bangsa Indonesia. Semoga prestasi mereka menginspirasi dan memotivasi sivitas akademika FKUI lainnya, untuk terus mengharumkan nama FKUI di dunia,” ujarnya. 

 

 

Halaman:

Editor: Jabodetabek.Id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Fakta Negara Brasil, Negara Terbesar Kelima di Dunia

Rabu, 24 November 2021 | 16:40 WIB
X